Siwalan (Borassus flabellifer L.), dikenal dengan nama lontar atau tal adalah sejenis palma yang tumbuh di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Pohon ini terutama tumbuh di daerah-daerah kering. Di Indonesia, siwalan terutama tumbuh di sebelah timur pulau Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Anonim, 2006i). Nama yang umum untuk siwalan menurut berbagai bahasa seperti bahasa Indonesia biasa disebut lontar, tal atau siwalan. Gambar : tan-siwalan
Klasifikasi tanaman siwalan menurut Anonim (2006g) adalah:
Kingdom : Plantae
Divisio : Magnoliophyta
Klas : Liliopsida
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae
Genus : Borassus
Spesies : Borassus flabellifer L.
Komposisi nira siwalan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.
Tabel 1 Komposisi Nira Siwalan
|
Komponen |
Jumlah |
|
Total gula (g/100 cc) |
10,93 |
|
Gula reduksi (g/100 cc) |
0,96 |
|
Protein (g/100 cc) |
0,35 |
|
Nitrogen (g/100 cc) |
0,056 |
|
pH (g/100 cc) |
6,7-6,9 |
|
Specific gravity |
1,07 |
|
Mineral sebagai abu (g/100 cc) |
0,54 |
|
Kalsium (g/100 cc) |
Sedikit |
|
Fosfor (g/100 cc) |
0,14 |
|
Besi (g/100 cc) |
0,4 |
|
Vitamin C (mg/100 cc) |
13,25 |
|
Vitamin B1 (IU) |
3,9 |
|
Vitamin B komplek |
Diabaikan |
Sumber: Davis and Johnson (1987)
Komposisi nira dari berbagai tanaman palmae seperti pada Tabel 2.
Tabel 2 Komposisi Nira berbagai Tanaman Palmae (%)
|
Jenis Tanaman |
Kadar Air |
Kadar gula |
Kadar Protein |
Kadar Lemak |
Kadar Abu |
|
Aren 1 |
88,85 |
10,02 |
0,23 |
0,02 |
0,03 |
|
Aren 2 |
87,66 |
12,04 |
0,36 |
0,02 |
0,21 |
|
Lontar |
87,78 |
10,96 |
0,28 |
0,02 |
0,10 |
|
Nipah |
86,30 |
12,23 |
0,21 |
0,02 |
0,43 |
|
Kelapa 1 |
87,78 |
10,88 |
0,21 |
0,17 |
0,37 |
|
Kelapa 2 |
88,40 |
10,27 |
0,41 |
0,17 |
0,38 |
Sumber: Anonim (1981)
Kerusakan Nira ditandai oleh penurunan pH disebabkan adanya perombakan gula menjadi asam organik oleh mikroba seperti khamir (Saccharomyces sp.) serta bakteri Acetobacter sp. Nira sangat mudah terkontaminasi karena mengandung nutrisi yang lengkap seperti gula, protein, lemak dan mineral yang sangat baik untuk pertumbuhan mikroba.
Pertumbuhan khamir optimal pada pH 4,0-4,5 (Fardiaz, 1992). Khamir tumbuh dengan baik pada suasana aerob namun untuk khamir fermentatif dapat tumbuh pada suasana anaerob (Jutono dkk, 1972). Menurut Said (1987) kadar gula yang optimal untuk pertumbuhan khamir adalah 10%, tapi kadar gula yang optimal untuk permulaan fermentasi adalah 16%.
Saccharomyces cereviceae merupakan khamir yang bersifat fermentatif kuat dan mempunyai suhu optimal untuk pertumbuhannya 25-30°C (Fardiaz, 1992) serta mampu menghasilkan enzim-enzim antara lain α-glukosidase, α-galaktosidase, selulase dan invertase (Astuty, 1991). Khamir Saccharomyces cereviceae bersifat anaerob fakultatif yang optimal dapat hidup dengan atau tanpa menggunakan O2 sebagai penerima elektron terakhir dalam metabolisme selnya. Kondisi aerob sel khamir akan memperbanyak aktivitas pertumbuhan dan sedikit sekali menghasilkan etanol sedangkan pada kondisi anaerob aktivitas khamir cenderung menghasilkan etanol (Maiorella, 1985).
BUAH SIWALAN ATAU JUGA DISEBUT : BUAH LONTAR : Buahnya agak bulat, bergaris tengah 7 – 20 cm, ungu tua sampai hitam, pucuknya kekuningan. Buah berisi 3 bakal biji. Daging buah muda warna putih kaca/transparan, daging buah dewasa/tua warna kuning kemudian berubah menjadi serabut. Buah siwalan merupakan sumber karbohidrat berupa sukrosa, glukosa dan air. kadar protein dan lemaknya sangat rendah dibawah 1%, serta sedikit serat.










5 tanggapan so far ↓
afroh // Oktober 19, 2008 pada 1:26 pm |
tolong kasih tau referensi lebih jauh tentang proses pembuatan ethanol dari nira siwalan ddunk…..
thank’s
simonbwidjanarko // Oktober 23, 2008 pada 4:09 am |
Sdr afroh; siap yg bisa bantu. aduh waktunya yg ngak ada mau bantu carikan. sabar ya, saiapa bisa bantu
akbar // November 18, 2008 pada 12:37 pm |
Saya mahasiswa tingkat akhir sebuah univ di jogjakarta. Kebetulan beberapa waktu yg lalu saya di bima NTB main-main ktempat kelompok tani di rasane barat. Dsana bnyak sekali pohon lontar. Air niranya dimanfaatkan masyarakat sekitar utk minuman. Cm yg jd masalah minuman tsb ga bertahan lama, kebanyakan sdh berubah menjadi tuak. Iseng-iseng air nira tersebut saya murnikan dgn teknologi membran sehingga yg warna asalnya putih keruh berubah menjadi sebening air dengan rasa tetap bahkan seperti rasa softdrink pd umumnya. Tanpa perlakuan pemanasan dan penambahan chemical ternyata nira tersebut dpt bertahan lama dan tidak terjadi fermentasi. Dari situ muncul ide mengapa air nira tsb tidak diolah menjadi minuman ringan? Setidaknya hal tsb dpt mengurangi penggunaan nira oleh masyarakat menjadi minuman haram. Menurut bpk, apakah air nira tsb layak menjadi minuman ringan? Terimakasih
simonbwidjanarko // November 21, 2008 pada 2:11 pm |
sdr akbar: setujuuuuu, sekali. coba topik tsb dipakai sbg tugas akhir sdr. lalu anda siap jualan minuman ringan dari nira lontar atau pohon siwalan mnrt nama orang tuban jatim. selamat meneliti. wass
yanti // Maret 2, 2009 pada 1:19 pm |
saya mahasiswa dari tuban, saya ingin bertanya sama mas akbar kira-kira teknlogi membran jenis apa yang bisa digunakan untuk membuat softdrink dari legen. apa RO seperti yang digunakan untuk air minum bisa? mohn bantuannya. siapa tahu saya bisa mengamalkan ilmu dari mas akbar untuk orang2 tuban. terimakasih sebelumnya