Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘tulisan ringan’ Category

Dalam tulisan ini dibahas, sejarah penyebaran ubi jalar, klasifikasi, jenis ubi jalar yang ada dan komposisi kimiawinya. ubijalar-22

Read Full Post »

Tulisan ini memuat jenis bahan pembentuk gel, seperti: karagenan dan tepung porang atau glukomannan. Fungsi karagenan dan glukomannan sebagai gelling agents. Mekanisme sinergisme dari karagenan dan glukomannan dalam mebentuk gel terutama pada produk-produk gel seperti: jelly drink. Semoga bermanfaat. Komentar anda?  bahan-pembentuk-gel-2

Read Full Post »

 

Blackwing proudly introduces North America’s healthiest certified 100% Organic Beef.

Blackwing 100% Organic, Free Range Beef is not only richer in Omega 3’s and CLA’s but has less fat, calories and cholesterol than chicken. Our 100% Organic Beef has been university tested and found to be more tender and flavorful than Angus Beef.

This 25,000 year old species of beef, known as Piedmontese Beef, was brought to North America in the 1980’s. We’re proud to have obtained 4500 head for the next 18 months. We hope you’ll try this incredible healthy beef which has received acclaim by some of our nation’s 5 star chefs.
WHY ORGANIC BEEF?

It is due to   Blackwing offers Organic Grass Fed Piedmontese Beef which is a uniquely lean and tender beef cattle. It originated 25,000 years ago in the foot hills of the Italian Alps where they grazed on a natural diet of fiber-rich grasses. Their lean physique and heavier muscle structure (known as double muscle) produces a more tender, juicy and full flavored beef that has less fat, calories and lower cholesterol than traditional beef. And organic meat is 100% certified organic by the USDA and CCOF (California Certified Organic Farmers). Organic meat is tender, delicious healthy red meats are rich in protein and low in fat, calories and cholesterol

Read Full Post »

Product Name:

Barley Flakes, Rolled Organic 5 lbs.  

Retail Price:

$4.80  

Bulk Price:

 

Weight:

5.00 lbs  

Product Image:

 

Description:

Barley Flakes are not as tender as oat flakes. May be used as oat flakes (or combined with them) with chewier results. May be added to soups and cooked gruels.

This flaked grain is produced through a few processes. First it is dehulled. It is then hydrated (usually through steaming). Next it is gently and briefly heated before passing through a rolling mill. Before packaging it is thoroughly cooled. This processing stabilizes the grain, meaning the enzymes are neutralized to prevent oxidation and rancidity. The heating transforms the starches to more simple sugars, making them more easily digested.
Nutrition Facts

Serving Size: 1/2 cup cooked

Nutrient Amount

Calories 55

Sodium 0 mg

Fat 0.5 g

Carbohydrate 14 g

Dietary Fiber 1.5 g

Protein 2 g

Cooking Instructions: Add 1 cup barley flakes to 3 cups boiling water, ratio of 3:1. Cook 20 minutes or until soft. If pressure cooking cook 4-6 minutes, ratio of 2:1.
To make barley burgers mix 2 cups cooked barley, 1 cup shredded vegetables, including onions and garlic, and an egg. Form into patties and fry.  

Company:

Montana Milling  

This product is good for us to fight obesity and helps us to reduce rice consumption. Easy to prepare and ready to eat. unfornutetly, its taste will be fit for javanese like us. And if you can afford to buy, you need some time to be familiar with. Price about US $ 4.80 about Rp. 45.000,-/1 kg package.

I hope there will be similar product Made in Indonesia available on a shelf shop. May be Breakfast cereals made from sorghum or local Gorontalo corn.

Product Name:

Barley, Hulled, Organic 25 lbs.  

Retail Price:

$13.20  

Bulk Price:

 

Weight:

26.00 lbs  

Product Image:

 

Description:

Hulled barley has had only the outer hull removed, but the course outer bran layer, which makes it higher in soluble fiber than pearled barley, is still intact.
Basic Cooking Instructions: Bring 4 cups of water to a boil, add 1 cup Hulled Barley, simmer for 1 1/2 hours, or until done. Serve.
May be baked in casseroles, used as stuffing, or pureed for cereal or pudding with maple syrup, cinnamon & dates.
Grown in Washington in the Palouse.
Size: 25 lbs.  

Company:

Montana Milling  

Barley hulled is perfect to help someone who suffered colon diverticulosis. Price about Rp 125.000/25 lbs.

It has high soluble fiber, which is good for our digestive organ. But the taste is bland, just like barley flakes. Student from Food Tech. Depart. need to develop similar product where its taste will be concomitant or accepted by most Indonesian.  

Read Full Post »

Interaksi Protein-Polisakarida

Sistem makanan selalu mengandung campuran heterogen protein dan polisakarida yang berbeda sifat alami kimia, modifikasi, rantai dasar, ukuran, bentuk molekul, tingkatan hidrolisis, denaturasi, disosiasi dan agregasi. Informasi yang tersedia mengenai sifat fase campuran polimer dan campuran sistem gelatin-gum arab tidak cukup untuk memahami fungsi protein dan polisakarida dalam sistem makanan. Interaksi protein dan polisakarida dan beragam protein satu sama lain dan dengan air akan mengatur kelarutan dan co-solubiliy biopolimer, kemampuan untuk membentuk larutan dan gel kental, viskoelastis dan sifatnya di permukaan (Damodaran and Paraf, 1997).

Campuran protein-polisakarida digunakan secara luas dalam industri makanan karena berperan penting dalam struktur dan tekstur bahan makanan (Dickinson and Merino, 2002). Keseluruhan tekstur dan struktur produk tidak hanya bergantung pada sifat individu protein dan polisakarida, tetapi juga sifat alami dan kekuatan interaksi protein-polisakarida. Oleh karena itu, untuk mengembangkan sifat yang diinginkan pada produk makanan, pengetahuan mekanisme interaksi protein-polisakarida sangat penting (Hemar et al., 2002).

Menurut Oakenfull et al., (1997) jika protein dan polisakarida berinteraksi dapat menghasilkan tiga kemungkinan, yaitu:

1)     Co-solubility, bila terjadi interaksi yang bersifat tidak nyata karena kedua molekul primer memiliki eksistensi sendiri-sendiri.

2)     Incompatibility, bila kedua tipe polimer saling menolak sehingga menyebabkan keduanya berada pada fase terpisah.

3)     Complexing, yaitu kedua polimer saling berikatan yang menyebabkan membentuk fase tunggal atau endapan.

 

Sifat sistem polimer yang bercampur telah dipelajari secara luas, bila satu atau kedua polimer memiliki kekuatan membentuk gel akan memiliki potensi untuk menciptakan produk dengan beragam tekstur. Ziegler dan Foegeding (1990) dalam Ledward (1994), telah meringkas tipe jaringan gel yang dapat terbentuk dengan dua bahan pembentuk gel yang berbeda. Bila proses pencampuran adalah eksotermik, dan interaksi tarik menarik, maka dapat mengarah pada susunan komplek larut atau tidak larut. Pada umumnya terjadi hanya untuk polimer yang muatannnya berlawanan, seperti alginat, pektat dan karboksimetilselulose (Ledward, 1994), atau yang bersulfat seperti karagenan (Will et al., 1988 dalam Ledward, 1994).

Reaksi lanjut yang mungkin antara protein dan polisakarida meliputi susunan langsung ikatan kovalen antara kedua polimer. Ledward (1979), Tolstoguzov, (1986), Hill and Zadow (1974) dalam Ledward (1994) menemukan bahwa pada pH 6,0 dan kekuatan ionik rendah (0,05 M), pektat, alginat dan CMC mampu untuk memodifikasi struktur mioglobin (pI=6,9) dan bovin serum albumin (pI=4,9) (Imeson et al., 1977). Kelompok hematin pada mioglobin yang bermuatan positif tinggi, akan cenderung untuk berikatan pada polisakarida anionik. Globular protein yang lain tidak akan mengarah pada  sebagian penghalang muatan positif, sehingga mioglobin secara umum tidak aplikatif. Kompleks larut terbentuk pada pH 5-7 dengan polisakarida anionik dan mioglobin terdenaturasi atau BSA atau gelatin dapat larut karena protein terikat kuat, komplek masih membawa muatan negatif besar sehingga memiliki sedikit kecenderungan untuk berkumpul. Pembukaan campuran polisakarida bermuatan dan protein pada kondisi dimana protein tidak melipat menghasilkan gulungan acak fleksibel yang akan berinteraksi dengan polisakarida sebagai sisi mengikat muatan potensial positif dan akan terbuka.

 

 Interaksi Protein dengan Air

Interaksi ini didasarkan pada adanya sifat hidrofilik protein. Sifat ini timbul oleh adanya rantai sisi polar di sepanjang rantai peptida, yaitu gugus karboksil dan amino. Molekul protein mempunyai beberapa gugus yang mengandung atom N atau O yang tidak berpasangan. Atom N pada rantai peptida bermuatan negatif sehingga mampu menarik atom H dari air yang bermuatan positif. Molekul air yang telah terikat tersebut dapat berikatan dengan molekul air yang lain, karena memiliki sebuah atom O dengan elektron yang tidak berpasangan (Damodaran and Paraf, 1997).

Protein akan mengalami perubahan muatan pada pH diatas dan dibawah titik isoelektriknya. Pada pH di bawah titik isoelektrik muatan positifnya lebih besar, sedangkan diatas titik isolektrik muatan negatifnya lebih besar. Perubahan muatan menyebabkan menurunnya daya tarik menarik antara molekul protein sehingga melekul lebih mudah terurai. Semakin jauh perbedaannya dari titik isoelektrik maka kelarutan protein semakin meningkat (Mangino, 1994). Penyerapan air oleh protein berkaitan dengan adanya gugus-gugus polar rantai samping seperti karbonil, hidroksil, amino, karboksil, dan sulfhidril yang menyebabkan protein bersifat hidrofilik dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air. Perbedaan jumlah dan tipe gugus-gugus polar tersebut menyebabkan perbedaan kemampuan protein dalam menyerap air (Kilara, 1994).

Interaksi Protein dengan Protein

Protein dapat berinteraksi dengan protein lain karena adanya ikatan hidrogen dan perubahan gugus sulfuhidril dan disulfida. Interaksi molekuler tersebut membentuk suatu jaringan tiga dimensi yang mengakibatkan tekstur protein menjadi kompak, dengan  struktur tiga dimensi tersebut maka protein dapat memerangkap sejumlah air (Damodaran and Paraf, 1997).

Struktur pangan seperti: keju, daging terbentuk karena interaksi antar molekul protein. Gel yang terjadi pada produk susu, apabila whey protein susu mengalami denaturasi. Upaya meningkatkan rendemen keju diperoleh, bila pemanasan mendorong I nteraksi casein dengan protein terlarut dalam susu. Ilmu pangan menjelaskan kepada kita fungsi molekul protein pada produk berbasis protein seperti: daging, susu dsb, adalah karena protein akan mengalami peristiwa gelasi selama proses atau protein mengikat air, sehingga terjadi semacam tekstur dari produk pangan berbasis protein tsb.

            Molekul protein sebagai polipeptida, molekul tsb dapat bersifat tertutup (folded) dalam berbagai bentuk tergantung pada urut-urutan asam amino penyusun protein dari berbagai jenis protein. Sehingga interaksi protein-protein ditentukan dan dijaga kestabilan strukturnya oleh interaksi antara berbagai jenis molekul asam-asam amino yang membentuk polipeptida/protein tsb.

            Tipe atau jenis ikatan yang menstabilkan molekul protein- protein antara lain disebabkan oleh interaksi van der waals, interaksi hidrofobik, interaksi elektrostatik, ikatan hydrogen dan interaksi kinetic dan factor lain yang menjaga interaksi protein-protein tsb.

            Protein alami/native dari sumber nabati seperti: protein 7 S atau 11 S, struktur molekulnya dijaga oleh tipe ikatan protein-protein tertentu. 11 S = Glycinin protein kedele tersusun atas 6 sub-unit molekul protein, dimana tiap sub-unit terdiri terikat oleh 2 tipe ikatan disulfide. Apabila 11 S dipanaskan akan pecah menjadi dimer AB, apabila pemanasan dilanjutkan akan pecah menjadi monomer A dan B yang selanjutnya molekul protein akan menggumpal.

            MEKANISME GELASI atau penggumpalan protein sebenarnya masih belum sepenuhnya diketahui, namun paling tidak melalui 2 cara. Pertama, akibat denaturasi protein, konformasi molekul protein berubah, baik karena pemanasan atau kimiawi. Kedua, tahap penggumpalan karena peristiwa denaturasi protein merupakan syarat mutlak, dimana penggumpalan akan membuka kesempatan molekul protein saling berinteraksi satu dengan lainnya, sehingga peristiwa gelasi atau terbentuknya GEL terjadi. Contoh: gugus thiol molekul cystein-120 dari jenis β-lactoglobulin dengan mudah terbuka karena proses pemanasan. Hal ini memungkinkan terjadinya interaksi protein-protein dari tipe ikatan –SH/S-S dan sifat hidrofobik dari protein kedele komersial meningkat akibat pemanasan, karena molekul 11 S terdissosiasi menjadi sub-unit-sub-unit.

 

Read Full Post »

 

Gelatinisasi merupakan fenomena pembentukan gel yang diawali dengan pembengkakan granula pati akibat penyerapan air. Bila pati mentah dimasukkan ke dalam air dingin, granula pati akan menyerap air dan mulai bengkak namun terbatas, sekitar 30% dari berat tepung. Proses pemanasan adonan tepung akan menyebabkan granula semakin membengkak karena penyerapan air semakin banyak. Suhu dimana pembengkakan maksimal disebut dengan suhu gelatinisasi. Selanjutnya pengembangan granula pati juga disebabkan masuknya air ke dalam granula dan terperangkap pada susunan molekul-molekul penyusun pati. Mekanisme pengembangan tersebut disebabkan karena molekul–molekul amilosa dan amilopektin secara fisik hanya dipertahankan oleh adanya ikatan hidrogen lemah. Atom hidrogen dari gugus hidroksil akan tertarik pada muatan negatif atom oksigen dari gugus hidroksil yang lain. Bila suhu suspensi naik, maka ikatan hidrogen makin lemah, sedangkan energi kinetik molekul-molekul air meningkat, memperlemah ikatan hidrogen antar molekul air. Tian et al., (1991) menyatakan bahwa bila pati dipanaskan dalam suhu kritikal dengan adanya air yang berlebih granula akan mengimbibisi air, membengkak dan beberapa pati akan terlarut dalam larutan yang ditandai dengan perubahan suspensi pati yang semula keruh menjadi bening dan tentunya akan berpengaruh terhadap kenaikan viskositas.

Pada proses pengukusan mie instan, dimana tepung terigu menjadi sala satu penyusun adonan tsb. Terjadi gelatinisasi sebagian molekul pati dan koagulasi gluten, sehingga mie menjadi lebih kenyal.

 

 

 

Read Full Post »

Tepung ubijalar merupakan hancuran ubijalar yang dihilangkan sebagian kadar airnya. Tepung ubijalar tersebut dapat dibuat secara langsung dari ubijalar yang dihancurkan dan kemudian dikeringkan, tetapi dapat pula dibuat dari gaplek ubijalar yang dihaluskan (digiling) dengan tingkat kehalusan ± 80 mesh (Suprapti, 2003).

Tabel 1. Komposisi Kimia dan Sifat Fisik Tepung Ubijalar

Komponen dan Sifat Fisik

Tepung Ubijalar

Air (%)

Protein (%)

Lemak (%)

Karbohidrat (%)

Abu (%)

Derajat Putih (%)

Waktu Gelatinisasi (menit)

Suhu Gelatinisasi (oC)

Waktu Granula Pecah (menit)

Suhu Granula Pecah (oC)

Viskositas Puncak (BU)

7,00

2,11

0,53

84,74

2,58

74,43

32,5

78,8

39,5

90,0

1815

Sumber: Antarlina dan Utomo (1997).

 

Tabel 2. Standar Mutu Tepung Ubikayu dan Usulan Standar Mutu Tepung Ubijalar

 

Kriteria

Tepung ubikayu1

Tepung ubijalar2

Kadar air (maks)

Keasaman (maks)

Kadar pati (min)

Kadar serat (maks)

Kadar abu (maks)

HCN (maks)

12%

3 ml 1 N NaOH/100 g

75%

-

1,5%

40 ppm

15%

4 ml 1 N NaOH/100 g

55%

3%

2%

-

Sumber: 1 SNI (1996)

                                       2 Antarlina (1993)

 

 

Tabel 3. Rerata Karakteristik Kimia dan Fisik Ubijalar Segar

Komposisi Kimia

Ubijalar  Oranye

Klon MSU 01015-7

Kategori

Ubijalar Ungu

Klon MSU 03028-10

Kategori

Kadar Air (%)

79,29

Tinggi

58,98

Rendah

Kadar Abu (%)

1,29

Tinggi

1,17

Rendah

Kadar Pati (%)

7,77

Rendah

23,99

Sedang

Kadar Gula Reduksi (%)

1,55

Tinggi

1,44

Rendah

Kadar Serat Kasar (%)

1,09

Tinggi

0,95

Rendah

Kadar β-karoten:

 (mg/100 g bb)

 (mg/100 g bk)

 

11,87

52,15

 

Tinggi

 

 

-

-

 

-

-

Kadar Antosianin:

 (mg/100 g bb)

 (mg/100 g bk)

 

-

-

 

-

-

 

536,08

1301,75

 

Tinggi

Analisa Warna:

-          L

-          a*

-          b*

 

68,73

31,00

55,2

 

-

-

-

 

33,76

11,06

17,04

 

-

-

-

 

Keterangan:

§  Data merupakan rerata dari 3 ulangan

§  bk : basis kering

bb : basis basah

 

 

 

 

 

Read Full Post »

PRINSIPNYA:

Sampel cair (nira tebu & sejenis) ditimbang tepat, kemudian dimasukkan ke dalam tabung sentrifuse. diputar dengan kecepatan tertentu. Supernatan yang diperoleh diendapkan dengan Pb Asetat. Saring. Filtrat jernih untuk di analisa profil gula dan kadar gulanya dengan HPLC. Sedang Endapan pada tabung sentrifuse tadi digabung dengan residu pada kertas saring pada penyaringan pertama. Residu endapan ini di anggap sebagai pati.

Residu di cuci beberapa kali dengan aseton, Aseton diuapkan dengan vakuum oven. Residu dihaluskan, dilarutkan dengan aquabides, dengan water bath. Setelah dingin diberi buffer asetat dan dihidrolisis dengan ensim amiloglucosidase semalam (24 jam) suhu 37 oC. Lalu campuran dilarutkan dalam etanol 85% volume tertentu. Saring dengan ultrafiltrasi atau whatman sedang. Sebaiknya dengan ultrafiltrasi. Filtrat sebagai gula hasil hidrolisis pati tadi diambil tertentu (25 ml). Dipekatkan vakuum evaporator 40 oC, kira-kira 3 – 5 ml. Sampel siap di injeksikan ke mesin HPLC, atau dibekukan dulu, dianalisa nanti setelah sampel cukup banyak. Selamat mencoba. saran anda?

Read Full Post »

Unsur penilaian sertifikasi dosen didasarkan atas dokumen portofolio dosen yang meliputi: (1) penilaian persepsional yang meliputi penilaian dari mahasiswa, teman sejawat, atasan langsung dan dosen yang diusulkan; (2) penilaian deskripsi diri dosen yang diusulkan atau disebut juga penilaian personal; dan (3) penilaian angka kredit (PAK). Sedangkan kelulusan sertifikasi dosen didasarkan pada:

1.      Rerata skor komponen dan total instrumen penilaian persepsional yang meliputi penilaian dari:

a.        mahasiswa,

b.        teman Sejawat,

c.        atasan langsung, dan

d.        dosen yang diusulkan.

2.      Rerata skor sub bagian dan bagian dari instrumen penilaian diskripsi diri dosen yang diusulkan atau disebut juga Penilaian Personal.

3.      Nilai konsistensi antara instrumen penilaian persepsional dan personal.

4.      Nilai Gabungan PAK dan nilai persepsional.

 

Instrumen persepsional terdiri dari kelompok skor untuk kompetensi (1) pedagogi, (2) profesional, (3) kepribadian, dan (4) sosial. Setiap butir instrumen diberi lima pilihan dengan kriteria sebagai berikut.

1 = sangat tidak baik/sangat rendah/tidak pernah

2 = tidak baik/rendah/jarang

3 = biasa/cukup/kadang-kadang

4 = baik/tinggi/sering

5 = sangat baik/sangat tinggi/selalu

Penilaian dilakukan oleh mahasiswa, teman sejawat, atasan langsung dan diri sendiri dosen ybs.

Hasil penilaian dimasukkan dalam rumus. Yang tidak mungkin saya jelaskan dalam tulisan ringkas ini. Untuk detailnya tunggu tulisan berikut atau dapat  dipelajari dari BUKU II SERTIFIKASI DOSEN. Sedangkan kelulusan dosen yang disertifikasi dihitung berdasarkan rumus. bagi yang gagal dilakukan lagi pembinaan oleh PANITIA SERTIFIKASI DOSEN (PSD) SETEMPAT atau PSD PERGURUAN TINGGI PENYELENGGARA (PTP) SERTIFIKASI DOSEN  PEMBINA seperti UB.

 

Tabel 1. Jumlah Penilaian Persepsional

N0

Penilaian dari

Jumlah

1

Mahasiswa

5

2

Teman Sejawat

3

3

Atasan Langsung

1

4

Dosen yang Diusulkan

1

 

Jumlah

10

 

Read Full Post »

Komposisi ubi jalar ungu klon MSU dan Ayamurasaki seperti terlihat pada Tabel 1:

            Tabel 1. Komposisi Fisiko-kimia dari ubi jalar ungu

 

Sifat Kimia dan Fisik

MSU 03028-10

AYAMURASAKI

Kadar air

Kadar abu (%)

      60,18

2,82

67,77   

3,28

Kadar pati (%)

    57,66

  55,27

Gula reduksi (%)

      0,82

    1,79

Kadar lemak (%)

      0,13

    0,43

Kadar serat (%)

?

?

Kadar antosianin (mg/100g)

1419,40

923,65

Aktivitas antioksidan (%) *

    89,06

  61,24

Warna (L*)

  34,9

 37,5

Warna (a*)

  11,1

14,2

Warna (b*)

  11,3

11,5

 

            Seperti terlihat pada Tabel 1. Kandungan antosianin lebih tinggi pada MSU 03028-10 dari pada klon AYAMURASAKI.

 

Efek pengolahan penggorengan, pengukusan dan pengolahan ubi menjadi selai dapat dilihat pada table berikut.

 

Tabel 2. Persentase Retensi Kadar Total Antosianin pada Ubi Jalar Ungu

Klon/varietas

Proses

Total antosianin (mg/100g bk)

Persentase Retensi (%)

MSU 03028-10

Segar

1419,40

100

Goreng

?

41

Kukus

?

50

Selai

?

48

Ayamurasaki

Segar

923,65

100

Goreng

?

72

Kukus

?

91

Selai

?

30

 

            Hampir 50% kadar antosianin penyebab warna ungu pada ubi jalar ungu rusak akibat penggorengan, pengukusan dan pembuatan selai pada klon MSU 03028-10. Sedang kerusakan sekitar 10 – 30% terjadi pada ayamurasaki akibat penggorengan dan pengukusan, namun hampir 70% warna ungu rusak akibat proses pembuatan selai.

 

Tabel 3. Komposisi Kimia dan Fisik Ubi Jalar Segar Orange (dalam basis kering)

Sifat Kimia dan Fisik

MSU 01015-07

MSU 01015-02

 

Kadar air %

Kadar abu (%)

  79,29

6,15

77,43 

4,32

Kadar pati (%)

68,95

69,51

Gula reduksi (%)

  7,93

10,13

Kadar lemak (%)

  1,17

  1,08

Kadar serat kasar (%)

?

?

Kadar beta-karoten (mg/100g)

52,10

  9,48

Aktivitas antioksidan (%) *

10,95

  2,26

Warna (L)

Warna (a*)

Warna (b*)

68,7

77,3

30,6

11,2

55,2

47,5

 

Kadar β-caroten MSU 01015-07 jauh lebih tinggi dari MSU 01015-02. Ini sejalan dengan nilai a* yang menunjukkan warna kuning pada ubi jalar MSU 01015-07 lebih tinggi 30,6, sedang MSU 01015-02 sebesar 11,2.

 

Tabel 4. Retensi Kadar Beta-karoten pada Ubi Jalar Orange

Jenis klon

Proses

Beta-karoten

(mg/100g bk)

Persentase retensi

(%)

MSU 01015-07

Segar

52,10

100

Goreng

?

17,97

Kukus

?

24,78

Selai

?

1,86

MSU 01015-02

Segar

9,48

100

Goreng

?

46,52

Kukus

?

15,72

Selai

?

3,38

            Penggorengan dan pengukusan menyebabkan penurunan kadar β-caroten 17 % dan 24% pada MSU 01015-07, namun lebih dari 98% β-caroten pada ubi jalar kuning rusak akibat pembuatan selai. Sedang pada  ubi jalar klon MSU 01015-02 penggorengan menyebabkan 54% β-caroten rusak. Sedang 96% β-caroten rusak karena proses pembuatan selai. Semoga bermanfaat.

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers